Foto : ils Buku Menyoal Status Agama Pra Islam

Menyoal Status Agama-Agama Pra-Islam

mufid | Selasa , 03 Januari 2017 - 10:19 WIB

Adalah al-Qur’an yang tak lain merupakan firman Allah s.w.t. sebagai pedomanan umat manusia yang diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w. untuk disampaikan kepada umatnya. Oleh karena itu, bagi umat Islam, sakralitas al-Qur’an bagi kaum muslimin adalah hal pokok yang sangat fundamental yang tak bisa ditawar-tawar.
 
Dalam perkembangannya, ada persoalan yang cukup menarik untuk kemudian didiskusikan secara serius dalam ruang lingkup akademik yang sistematis. Apakah sakralitas al-Qur’an sebagaimana dipercaya oleh kaum muslimin hanya terbatas pada teks di dalam al-Qur’an itu sendiri atau pada ruang lingkup tafsir yang datang jauh pasca Rasulullah s.a.w. wafat? Jika hanya terbatas pada teks, penulis pun mengamini dengan keyakinan penuh bahwa teks-teks yang ada pada al-Qur’an merupakan firman Allah Yang Maha Suci tanpa keraguan sedikitpun. Namun jika sudah memasuki wilayah tafsir akan teks-teks di dalamnya, maka mau tidak mau sedikit banyak usaha penafsiran tersebut erat kaitanya dengan latar belakang intelektual, sosial, dan budaya si penafsir.
 
Perkembangan diskursus Islamic Studies juga menjadi salah satu indicator variable bagi sarjana barat untuk melakukan kajian serius terhadap al-Qur’an. Bagi mereka, al-Qur’an dijadikan sebagai objek yang dipelajari secara kritis, sehingga memungkinkan terbukanya peluang dalam mencari teori baru yang sebelumnya tidak ada. Dalam hal ini, kajian Mun’im Sirri di dalam disertasinya “Reformist Muslim Approaches To The Polemic Of The Qur’an Against Other Religion” yang belakangan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Polemik Ayat Suci: Tafsir Reformasi Atas Kritik al-Qur’an Terhadap Agama Lain merupakan satu segmen dari perspektif lain atas kajian terhadap al-Qur’an secara kritis. Objeknya adalah polemik yang terjadi di dalam al-Qur’an mengenai ayat-ayat tertentu. Sehingga dengan demikian, muncullah dua embrio yang saling kontraproduktif dalam memahami polemik tersebut. 
 
Pertama adalah kaum tradisionalis yang berpijak pada pemahaman dokmatis, lalu disusul oleh kaum revisionis yang berpijak pada pendekatan analisis keritis. Pertentangan keduanya kemudian mendapat perhatian yang serius di kalangan para ulama pemerhati kajian al-Qur’an sehingga untuk medamaikan perseteruan itulah menurut dugaan penulis kemudian lahir kelompok ketiga yang mengusung teori nasikh dan mansukh sebagai langkah yang kerap menjadi pilihan alternatif terakhir untuk mengenengahi polemik yang terjadi.
 
Hubungan Agama-Agama Pra-Islam Dengan Islam
Umat Islam tentu meyakini bahwa Islam merupakan agama paripurna yang menyempurnakan syariat nabi-nabi sebelum lahirnya Islam itu sendiri. Namun yang kerap menjadi persoalan adalah adanya ayat-ayat al-Qur’an yang mengklaim bahwa pengikut agama Yahudi, Shabi’ah, dan Nashrani juga akan mendapat pahala dari Allah apabila mereka melakukan kebaikan-kebaikan tertentu. Di sinilah sebenarnya asal muasal polemik yang oleh Dr. Sa’dullah Affandy didudukkan di dalam buku “Menyoal Status Agama-agama Pra-Islam”. Menurutnya, semua agama samawi, baik Yahudi, Nashrani, dan maupun Islam  mengklaim paling dekat dengan kepercayaan Nabi Ibrahim a.s.. Klaim tersebut diperkuat dengan penuturan masing-masing agama di dalam kitab sucinya. Di dalam Injil predikat righteous (orang yang berbudi) disematkan kepada Nabi Ibrahim, di dalam al-Qur’an pun ia mendapat predikat al-Hanif (orang yang tulus dan cenderung pada kebenaran). (Sa’dullah, 2015:51).
 
Kendatipun ada persamaan esensial antara agama Yahudi, Nashrani, dan Islam sebagai agama ibrahimi atau Abrahamic Religions, namun pada dimensi yang lain banyak pula perbedaan-perbedaan yang melingkupinya. Perbedaan inilah yang menurut hemat penulis luput dari perhatian Dr. Sa’dullah Affandi sebagai acuan untuk mengimbangi kajian-kajian perbandingan agama. Argumentasi persamaan esensi tiga agama sebagai penulis ungkap di muka, di samping didasarkan pada argumen teologis yang terdapat di dalam kitab-kitab suci agama Yahudi, Nasrani, dan Islam. Juga didasarkan pada argumentasi genealogis. Di mana menurut Dr. Sa’dullah, yang juga mengutip teori Frithjof Schuon bahwa pada hakikatnya monotoisme pada awal perkembangannya merupakan cabang kelompok agama semit yang berasal dari Nabi Ibrahim. Kemudian konsep monotoisme tersebut berkembang dan diadopsi oleh anak keturunan Nabi Ismail dan Nabi Ishaq. (Sa’dullah, 2015:51).
 
Jika melihat sejarah perkembangan agama-agama samawi tadi, agaknya memang ada semacam kesamaan yang hamper mirip antara satu dengan yang lain. Karena memang pada hakikatnya agama-agama samawi mempunyai prinsip kalimatun sawa’  yang tertuang di dalam visi misi mereka, yaitu nilai-nilai dan budi pekerti yang luhur. Oleh karena itu, apa yang dinyatakan oleh KH. Said Aqil Siradj sebagaimana dinukil oleh Dr. Sa’dullah Affandi bahwa pada hakikatnya semua agama memiliki kesempurnaan, karena ia menyimpan serta membawa visi dan misi ilahiah yang berkenaan dengan capaian-capain kesempurnaan manusia, baik secara individu maupun sosial. Seakan membawa pengaruh yang signifikan bagi perkembangan pluralism dalam konteks perdamaian antar umat beragama. (Sa’dullah, 2015:51).
 
Dengan demikian, penegasan Dr. Sa’dullah Affandi di dalam buku ini (Menyoal Agama-agama Pra-Islam) didasarkan pada dua hal yang cukup prinsipil. Pertama pada visi dan misi yang dibawa oleh agama-agama samawi yaitu membebaskan manusia dari belenggu sifat moral rendahan, kemudian membawa mereka pada ketinggian moral. Kedua adalah bahwa kehadiran agama-agama pada dasarnya menampakkan kekurangan sebagai akibat dari adanya penyimpangan moral dan teologis. Oleh karena itu, berangkat dari latar belakang itulah mengapa Islam ditakdirkan sebagai agama terakhir yang sama-sama lahir dari rahim Abrahamic Religions. Karena Islam menabalkan diri sebagai agama paripurna yang menyempurnakan historisitas agama Yahudi dan Nasrani. (Sa’dullah, 2015:54). Dari sini kemudian dapat dipahami bahwa pada dasarnya kehadiran agama-agama samawi, baik Yahudi, Nashrani, dan Islam tidak lain untuk menyempurnakan satu sama lain.
 
Jadi, menurut Dr. Sa’dullah, benang merah yang menjadi penyambung seluruh agama-agama samawi terletak pada visi dan misinya. Di sini kemudian dikembangkan pembahasaanya bahwa agama apapun pada hakikatnya memiliki ajaran dan misi untuk menegakkan keadilan serta pembelaan terhadap kaum yang lemah atau Isti’anul Mustadh’afiin. Begitu juga dengan Islam, ia lahir karena banyaknya ketimpangan dan kedzaliman terhadap kaum yang lemah. Di mana jika meminjam istilah Dr. Sa’dullah Affandi bahwa Islam datang di tengah-tengah umat manusia pada hakikatnya untuk memberikan advokasi dan membebaskan mereka dari ketimpangan sosial, tirani, eksploitasi, dominasi, hegemoni dan berbagai tindakan dzalimnya dalam ruang lingkup yang berbeda-beda. Kondisi semacam ini tergambar dalam situasi Mekkah sebelum Rasulullah s.a.w. diangkat menjadi seorang Nabi dan Rasul (Sa’dullah, 2015:54).
 
Selanjutnya dengan mengutip pendapat Jerald F. Dirks, Dr. Sa’dullah menegaskan bahwa kesamaan antara agama-agama samawi pada hakikatnya persamaan ketiga agama samawi di atas sebenarnya bukan terjadi secara kebetulan. Akan tetapi faktor genealogis dari ketiga pembawa risalah pada masing-masing agama tersebut bermuara pada sosok Nabi Ibrahim yang tak lain bapak monotois. (Sa’dullah, 2015:54). Menariknya, dalam Islam sendiri, tepatnya di dalam surat al-Nahl ayat 123, Allah s.w.t. justru memerintahkan Nabi Muhammad dan para sahabatnya untuk mengikuti Nabi Ibrahim yang digambarkan sebagai sosok yang Hanif. 
 
Dengan mengutip pendapat Dr. Nurcholis Madjid, Dr. Sa’dullah menguatkan argumentasinya bahwa Islam yang dimaksud di sini adalah sebagai ekspresi kepasrahan terhadap Tuhan, bukan sebagai sebuah institusi formal. Menurutnya, keagamaan tanpa diikuti oleh sikap kepasrahaan kepada Tuhan tidaklah sejati. Berangkat dari titik ini kemudian Dr. Sa’dullah berpendapat bahwa semua agama sebelum Nabi Muhammad juga disebut Islam karena faktor kepasrahan diri kepada Tuhan. Pemeluknya pun di dalam pandangan-Nya sama kecuali mereka yang benar-benar ikhlas untuk pasrah dan mendekatkan diri kepada-Nya. (Sa’dullah, 2015:58).
 
Polemik Nasikh dan Mansukh
Tafsir al-Qur’an apabila diamati secara seksama dan teliti, maka akan bermuara pada perubahan cara pandang antara mufassir yang satu dengan yang lainnya. Hal ini disebabkan oleh latar belakang intelektual, sosial, budaya, dan politik si penafsir itu sendiri. Oleh karena subjektifitas argument yang dikemukakan oleh penafsir juga mempengaruhi corak pemahaman terhadap ayat-ayat yang bersifat polemis di dalam al-Qur’an. Pada kasus polemik nasikh dan mansukh ini misalnya, Dr. Sa’dullah mencoba untuk mendudukkan problematika tersebut dengan membandingkan argumentasi mufassir yang pro, maupun yang kontra.
 
Pokok persoalan yang menjadi perdebatan di kalangan para mufassir pada kasus ini terletak pada surat al-Baqarah ayat 62: “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian, dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. Dr. Sa’dullah menegaskan bawah dalam menyikapi ayat ini, setidaknya ada dua titik pendapat yang bertolak belakang. Titik pertama mengatakan bahwa ayat ini pada dasarnya sudah dimansukh oleh Ali Imran ayat 85: “Barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”. Pendapat titik pertama tersebut didukung oleh sebagian besar para mufassir klasik semisal al-Thabari, Ibnu Katsir, dan belakangan juga didukung oleh Syekh Nawawi al-Bantani. Mereka melandaskan argumentasinya pada riwayat Ibnu Abbas. (Sa’dullah, 2015:58).
 
Pendapat lain yang bertentangan dengan titik pertama dikemukakan oleh titik kedua. Mereka tidak mengakui adanya nasikh dan mansukh dalam memandang polemik surat al-Baqarah ayat 62 dan Ali Imran ayat 85 tersebut. Bagi titik kedua ini, justru al-Baqarah 62 sejalan dengan Ali Imran 85. Argumentasi mereka didasarkan pada arti bahwa keselamatan di akhirat bukan karena faktor agama yang dipeluk oleh seseorang, namun karena faktor keimanan, amal baik, dan kemanusiaan. Pendapat ini mendapat dukungan penuh dari sebagian besar ulama kontemporer semisal Rasyid Ridha, Muhammad Imarah, Kamal al-Banna, Hamka, dan Sayydi Husein Fadlullah. (Sa’dullah, 2015:58).
 
Menurut Dr. Sa’dullah, penolakan sebagian mufasir seperti Ibnu Katsir didasarkan pada argument bahwa dengan datangnya Islam, maka agama-agama dan syariat-syariat sebelumnya dengan sendirinya tidak berlaku lagi. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa kedatangan Islam menurut pandangan Ibnu Katsir pada dasarnya sangat sesuai dan mencakup seluruh umat manusia dalam segala zaman. Untuk itu maka syariat agama-agama pra-Islam secara otomatis telah diabrogasi dengan datangnya syariat Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad.
 
Dari beberapa argument yang telah penulis paparkan di muka, sebenarnya kotak Pandora dari perdebatan para mufasir telah terbuka. Hal ini disebabkan karena masing-masing kelompok, baik yang pro atau yang kontra terhadap teori nasikh dan mansukh sama-sama bertahan dengan argumentasinya hingga terpolarisasi dalam dua kubu besar, yakni Mutaqaddimin dan Mutaakhkhirin, fundamentalis dan inklusif. Sebenranya adanya polemik penghapusan tersebut sebagai akibat dari perbedaan dalam mengartikan makna naskh. Kelompok pertama memandang bahwa naskh dipahami sebagai pembatalan hukum yang ditetapkan pada terdahulu oleh hukum yang ditetapkan kemudian. Sedangkan kelompok kedua memahami naskh sebagai berakhirnya pemberlakuan hukum terdahulu oleh hukum yang ditetapkan kemudian. (Sa’dullah, 2015:60).
 
Di sini kemudian Dr. Sa’dullah mengambil sikap atas perdebatan yang terjadi di kalangan ulama Mutaqaddimin dengan Mutaakhkhirin mengenai teori nasikh dan mansukh sebagamana telah dipaparkan di atas. Menurut ulama mutaqaddimin, naskh meliputi pengecualian yang bersifat umum oleh yang bersifat khusus. Kelompok ini juga menurut Dr. Sa’dullah beranggapan bahwa segala ketetapan hukum Islam yang membatalkan hukum yang berlaku pada masa pra-Islam merupakan bagian dari naskh. Yang jelas, pendapat ulama mutaqaddimin di atas ditentang oleh ulama mutakkhirin yang menyatakan bahwa naskh terbatas hanya pada ayat-ayat yang dibatalkan hukumnya di dalam al-Qur’an. Dengan demikian, apa yang disebutkan oleh ulama mutaqaddimin di muka disebut sebagai al-Takhsish (pengkhususan) menurut perspektif ulama mutaakhirin. (Sa’dullah, 2015:61).
 
Jika ditelisik lebih jauh, sebenarnya polemik Nasikh dan Mansukh sebagaimana penulis paparkan pada alinea sebelum ini bermula dari cara pandang para ulama tafsir soal surat al-Baqarah ayat 106: “Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?”. Lalu kemudian dilanjutkan dengan surat al-Nahl ayat 101: “Dan apabila Kami letakkan suatu ayat di tempat ayat yang lain sebagai penggantinya, padahal Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya, mereka berkata: "Sesungguhnya kamu adalah orang yang mengada-adakan saja". Bahkan kebanyakan mereka tiada mengetahui”. Dan yang terakhir adalah surat al-Ra’d ayat 39: “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh)”. (Sa’dullah, 2015:61).
 
Berdasarkan polemik tersebut, sebenarnya ada titik temu yang bisa dijadikan sebagai batasan dan rumusan pada masalah yang terjadi di kalangan para muafasir. Yaitu adanya polemik yang dalam memahami konsep al-Naskh wa al-Mansukh. Begitu juga ketika pengertiannya dijadikan pisau analisis dalam membaca masalah-masalah teologis, yaitu kontroversi penafsiran atas abrogasi terhadap ajaran-ajaran agama pra-Islam. Menurut Dr. Sa’dullah, terma abrogasi ajaran ini akan dan terus menjadi polemik berkepanjangan yang masih terus diperdebatkan. Oleh karena itu, kajian ini menurutnya juga sangat layak untuk dikupas sehingga dapat memperkuat beberapa statemen al-Qur’an yang memberikan penghargaan terhadap para pemeluk agama, serta hubungan genealogis dalam rumpun-rumpun agama samawi lainnya. (Sa’dullah, 2015:63).
 
 
Fenomena Abrogasi Agama 
Terkait tentang ayat – ayat abrogasi agama (naskh ektra qur anik) tidak meemukan titik temu bahwa cenderung mempertahankan penafsiran masing-masing. Buku Nazzariyah Al Naskh fi syara’I al samawiyah karya Sya’ban Muhammad Ismail (lahir 1939)menjelaskan bahwa tradisi abrogasi dalam kitab suci tidak hanya terjadi dalam islam (al qur an) saja, melainkan juga terjadi dalam kitab suci terdahulu. Perjanjian baru Injil yang banyak menghapus syariat yang termaktub dalam perjanjian lama (taurat) begitu pun Taurat banyak menagnulir tradisi sebelumnya dari ajaran nabi Adam.
 
Sementara itu, di kalangan muslim, perdebatan tentang agama Islam yang mengabrogasi agama pra Islam menjadi wancana intelektual yang terus diperdebatkan hingga kini. Islam secara khusus memiliki etos biblikal yahudi dan kristen. Islam sejatinya memiliki sifat inklusif terhadap ahli kitab, karena atas jasa mereka, islam terhubung melalui manusia pertama di atas bumi, atas dasar itu, al quran merupakan mata rantai kritis dalam pengalaman pewahyuan umat islam dan jalan unversal bagi kemaslahatan simplistik menyebutkan doktrin penghapusan agama terdahulu sebagai konsesus dalam kerja sama sunni syiah.
 
Sya’ban Muhammad Ismail memberikan argumen naqliyah bahwa islam bukanlah agama tersendiri, tetapi satu kesatuan sebagai episode lanjutan dari perjalanan sejarah agama – agama sebelumnya, sebagimana Sabda Rasulullah tersebut 
Sesungguhnya perumpamaanku dengan para nabi sebelumnya, diibaratkan seseorang yang bangun sebuah rumah. Orang tersebut membangun dengan bagus dan indah, namun di sudut rumah tersebut tersisa batu bata yang belum terpasang. Semua orang terheran – heran sambil mengelilingi rumah mereka berkata: kenapa batu bata itu tidak terpasang? Nabi kemudian menjawab akulah batu bat itu, akulah penutup para nabi.
 
Stetemen Rasulullah itu merupakan sebuah gambaran dan penjelasan bahwa nabi penyempurna, bukan sebagai pemutus mata rantai paraletitas agama – agama sebelumnya.  Ismail menuturkan bahwa hal ini adalah merupakan statregi Allah yang Maha Bijaksana dalam mendesain bangunan kesinambungan agama – agama sebagai sentuhan kreasi Illahiah dalam upaya mengedukasi umat beragama 
 
Dengan cara ini, menurutnya, tidak terjadi lompatan dan kesenjagan bagi pemeluk agama dalam mengapresiasi ajaran – ajaran. Melalui strategi penahapan ini juga diharapkan tidak terjadi kemadegan (tawaqquf) regrasi atau setback (raj at) suatu ajaran, serta meminimalisasi paradoks  antara syariat satu agama dengan agama lain. Dengan demikian, satu agama dengan agama lainnya akan terbangun sebuah dialog interlacing, ikatan yang saling menopang, kokoh dan kuat, menuju terwujudnya kesempurnann dan keharmonisan, dan keberagaman yang dinamis.
 
Ayat QS  Al Baqarah:106 yang selama ini di jadikan sebagai dalil naskh intr qur anik, dalam buku ini tidak bisa di jadikan justifikasi atas penghapusan agama – agama pra – islam (naskh ektra qur anik), sebagaimana penafsiran naskh dari Muhammad Abd al Mu’ta’al Jabri (w. 1995). Anggapan aadanya abrogasi agama berarti menafikkan sebagian aturan dan teori naskh itu sendiri. Ayat tersebut hanya mengungkapkan pengandaian dan bukan keniscayaan naskh. Ayat-ayat al qur an seluruhnya tetap berlaku; seandainya pun ada “ pertentangan” harus dipahami secara profesional berdasarkan kondisi sosio-historis, dan tidak dengan cara saling menghapus ayat (naskh intra  qur anik) ayat – ayat dal al qur an merupakan wahyu pilihan yang menjadi ajaran terbaik bagi umatnya, sehingga pengahpusan ayat artinya dengan menolak ajaran terbaik dari agama.
 
Kesimpulan
Bahwa dalam mendudukkan polemik nasikh dan masukh terhadap ayat-ayat tertentu di dalam al-Qur’an, Dr. Sa’dullah Affandy memfokuskan diri pada dua jenis naskh. Pertama adalah penghapusan antar ayat, sedangkan yang kedua adalah penghapusan al-Qur’an atas kitab suci dan agama terdahulu. Akan tetapi dalam memandang kedua naskh tersebut, Dr. Sa’dullah justru menolaknya, namun ia mempunyai kesimpulan lain, bahwa risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad s.a.w. tidak bisa menghapus agama-agama terdahulu. Alasan yang dibangun olehnya adalah pandangan abrogasi agama-agama pra-Islam bertentangan dengan realitas kontinuitas wahyu yang turun kepada Nabi Muhammad sebagai kelanjutan dari ajaran-ajaran Nabi sebelumnya. Menurutnya, al-Qur’an diturunkan, justru untuk membenarkan, melanjutkan, dan menjaga substansi kitab-kitab sebelumnya yang berkelindan satu sama lain. Bahwa Gharaaniq ini merupakan kisah kontroversial yang menyulut perdebatan di kalangan para ulama.
 
Ayat QS  Al Baqarah:106 yang selama ini di jadikan sebagai dalil naskh intr qur anik, dalam buku ini tidak bisa di jadikan justifikasi atas penghapusan agama – agama pra – islam (naskh ektra qur anik), sebagaimana penafsiran naskh dari Muhammad Abd al Mu’ta’al Jabri (w. 1995). Anggapan adanya abrogasi agama berarti menafikkan sebagian aturan dan teori naskh itu sendiri. Ayat tersebut hanya mengungkapkan pengandaian dan bukan keniscayaan naskh. Ayat-ayat al qur an seluruhnya tetap berlaku; seandainya pun ada “ pertentangan” harus dipahami secara profesional berdasarkan kondisi sosio-historis, dan tidak dengan cara saling menghapus ayat (naskh intra  qur anik) ayat – ayat dalam al qur an merupakan wahyu pilihan yang menjadi ajaran terbaik bagi umatnya, sehingga pengahpusan ayat artinya dengan menolak ajaran terbaik dari agama.
 
Penulis : M Mufid Syakhlani Mahasiswa Pascasarjana Stainu Jakarta / Publica Institut 


Djendral Sudirman meninggal 29 Djanuari 1950

Segera Beredar, Buku 7 Jalan Menuju Keamanan Energi

TAFSIR AL - MUNIR, TAFSIR AL-QURAN BERBAHASA BUGIS ( UGI ) KARANGAN AGH. DAUD ISMAIL