Foto : konferensi pers penembakan di deiyai papua

Kasus Penembakan 17 Warga Sipil Papua, PBB Diminta Turun Tangan

MTH | Rabu , 09 Agustus 2017 - 16:58 WIB

publicapos.com - Papua kembali berdaraah. Peristiwa dugaan penembakan terhadap 17 warga sipil, dimana satu diantaranya tewas atas nama Yulius Pigai di Kampung Oneibo, Distrik Tigi, Kabupaten Deiyai, Provinsi Papua, 1 Agustus 2017, oleh aparat keamanan gabungan Polisi dan Brimob, terindikasi kuat merupakan pelanggaran HAM yang berat sebagaimana dimaksud dalam amanat pasal 7, pasal 8 dan pasal 9 dari Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 Tentang Pengadilan HAM,” ungkapnya dalam siaran pers yang dikirim melalui email redaksi suarapapua.com.

Warinussy membeberkan indikasi kuat telah terjadinya kejahatan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan (crime against humanity) sebagaimana diatur dalam pasal 7 UU 26/2000, nyata dari fakta kasus penembakan terhadap 17 warga sipil Papua di Kampung Oneibo, Deiyai.

“Hal itu tampak dari bentuk luka-luka yang dialami oleh korban tewas maupun 16 korban lainnya yang kuat fakta dan data tidak ditembak dengan peluru karet dan kuat fakta dan bukti bukan ditembak untuk dilumpuhkan, tetapi kuat dugaan ditembak untuk memusnahkan atau mematikan,” ujarnya.

Beberapa NGO diantaranya Amnesty International Indonesia, Imparsial, KontraS, dan LBH Jakarta menggelar pernyataan publik yang menyerukan akan segera melakukan Investigasi. Temuan-investigasi itu harus dipublikasikan dan mereka yang diduga bertanggung jawab atas pelanggaran pidana, termasuk mereka yang memiliki tanggung jawab komando, harus dibawa ke muka hukum, dan para korban diberikan reparasi yang memadai. Pemerintah Indonesia juga perlu mengakhiri kebiasaan pembiaran atas impunitas para pelaku dari kasus semacam ini.

Sementara itu (Lembaga Penelitian, Pengkajian dan Pengembangan Bantuan Hukum) LP3BH juga meminta perhatian PBB dalam hal ini Dewan Hak Asasi Manusia yang berkedudukan di Jenewa, Swiss, segera mengirimkan pelapor khusus (Special Rapporteur) untuk urusan anti penyiksaan agar berkunjung ke Tanah Papua. Termasuk dalam rangka mengungkap tragedi berdarah di Oneibo, Kabupaten Deiyai.


Sekjen dan Anggota DK PBB Akui Peran Penting Indonesia Atasi Krisis Kemanusiaan di Myanmar

Innalillahi... Rumah Tahfiz Quran Terbakar, 22 Murid dan Dua Guru Meninggal

Suu Kyi Menolak Hadiri Pertemuan PBB untuk Atasi Krisis Rohingya

Sejarah Baru, Halimah Yacob Perempuan Pertama yang Jadi Presiden Singapura