Foto : Istimewa

Sejuta Potensi Maritim Indonesia, Kok Masih Krisis Energi?

Kis | Jumat , 18 Agustus 2017 - 15:32 WIB

Indonesia, berdasarkan UNCLOS 1982, memiliki total luas wilayah laut Indonesia seluas 5,9 juta km2, yang terdiri atas 3,2 juta km2 perairan teritorial dan 2,7 km2 perairan Zona Ekonomi Eksklusif, luas tersebut belum termasuk landas kontinen. Tak hanya itu, Indonesia juga terletak pada posisi sangat strategis, yakni antara Benua Asia dan Australia serta Samudera Hindia dan Pasifik. Tak dapat dipungkiri lagi bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Namun demikian, pembangunan bidang kelautan dan perikanan hingga saat ini masih jauh dari harapan. Padahal wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil dan lautan kepulauan Indonesia memyimpan potensi sumber daya alam dan jasa lingkungan yang sangat besar dan belum dimanfaatkan secara optimal sehingga berimbas pada menurunnya kesejahteraan masyarakat.  
 
Indonesia diprediksi akan memasuki masa krisis energi yang disebabkan karena menurunnya cadangan minyak bumi dan semakin murahnya harga minyak mentah.  Konsumsi solar di Indonesia terus meningkat dengan kenaikan rata-rata 7% pertahun. Konsumsi solar pada tahun 2020 diperkirakan akan mencapai 34 juta kilo liter. Dari konsumsi tersebut, sekitar 40% adalah solar yang diimpor dari negara lain. Sejak tahun 2004, Indonesia telah menjadi net-importer minyak. Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan penduduk dan perkembangan ekonomi yang pesat. Cadangan minyak bumi Indonesia hanya cukup untuk 23 tahun ke depan, sementara cadangan gas bumi masih mencukupi untuk 62 tahun ke depan, sedangkan cadangan batubara habis dalam jangka waktu 146 tahun lagi sehingga dapat diketahui bahwa cadangan energi pada tahun 2013 yaitu 21 tahun lagi untuk minyak bumi, 60 tahun lagi untuk gas alam, dan 144 tahun lagi untuk batubara. 
 
Indonesia sendiri merupakan negara yang amat kaya akan cadangan Sumber Daya Alamnya, namun karena kurangnya Sumber Daya Manusia yang kompeten dalam pengolahan minyak bumi, membuat Indonesia harus menjual minyak mentah ke luar negeri dengan harga yang murah.  Di sisi lain, negara maju dengan kemampuan pengolahan minyak mentah yang baik akan mengubah minyak mentah menjadi minyak yang siap digunakan seperti bensin dan solar dengan harga jual yang lebih tinggi. Proses perputaran bisnis minyak nyatanya semakin menyebabkan kerugian bagi Indonesia, baik dari segi penjualan maupun pembelian minyak ke luar negeri. Krisis energi akan berdampak buruk bagi kelangsungan hidup rakyat Indonesia. Permasalahan ini menjadikan pemerintah dan peneliti harus berpikir bagaimana caranya untuk mengganti Sumber Daya Alam tersebut dengan energi alternatif lain yang murah, mudah, dan memiliki ketahanan serta dapat dimanfaatkan secara terus-menerus.
 
Salah satu sumber energi yang murah, mudah, serta ramah lingkungan adalah listrik. Energi listrik sudah banyak digunakan oleh negara-negara maju sebagai sumber energi alternative yang ramah lingkungan sebagai pengganti bahan bakar minyak bumi. Berbagai teknologi seperti kendaraan berbahan bakar listrik ramah lingkungan telah menjadi andalan negara maju sejak lama.  Penggunaan energi listrik di Indonesia juga sudah dimulai sejak beberapa tahun lalu seperti kendaraan umum berbahan bakar listrik dan gas, hingga proyek mobil listrik kebanggaan pak Dahlan Iskan. Namun, nyatanya defisit pasokan listrik sendiri masih dialami di berbagai daerah di Indonesia. Jika tak segera diatasi, maka krisis listrik tak hanya berdampak bagi pertumbuhan ekonomi dan pembangunan, namun juga konflik sosial. Beberapa daerah seperti di Riau, Medan, Jambi, Aceh, dan Pontianak mengalami krisis pasokan listrik karena sering mati. Pemerintah memiliki program pembangkit listrik 35.000 MW yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Pemerintah telah berkomitmen untuk merealisasikan penyediaan listrik sebesar 35000 Megawatt (MW) dalam jangka waktu 5 tahun (2014-2019). Sepanjang 5 tahun ke depan, pemerintah bersama PLN dan swasta akan membangun 109 pembangkit; masing-masing terdiri 35 proyek oleh PLN dengan total kapasitas 10.681 MW dan 74 proyek oleh swasta/Independent Power Producer (IPP) dengan total kapasitas 25.904 MW. Dan pada tahun 2015 PLN akan menandatangani kontrak pembangkit sebesar 10 ribu MW sebagai tahap I dari total keseluruhan 35.000 MW. Namun, proyek listrik 35.000 Megawatt (MW) yang dicanangkan saat ini terancam molor sehingga ancaman defisit listrik secara nasional sudah menanti di depan mata.
 
Untuk menghasilkan energi listrik, diperlukan sumber energi lain yang dapat dikonversikan menjadi energi listrik. Beberapa sumber energi yang dapat dikonversikan menjadi energi listrik seperti energi air dan angin yang dikonversikan menggunakan dynamo menjadi listrik. Sumber penghasil energi listrik seperti air dan angin sangat bergantung pada keadaan alam yang sulit diprediksi, sehingga diperlukan suatu sistem penghasil energi listrik yang memiliki kemampuan bertahan terhadap alam dan dapat digunakan secara terus-menerus. Salah satu cara untuk menghasilkan energi listrik sekaligus memanfaatkan Sumber Daya Alam Indonesia adalah dengan menggunakan potensi maritim Indonesia.
 
Lautan di Indonesia memiliki rata-rata gelombang pada Laut Selatan Indonesia hingga mencapai 3 meter. Tingginya ombak laut Indonesia sebenarnya berpeluang untuk dimanfaatkan menjadi pembangkit listrik. Pembangkit listrik tenaga gelombang masih sedikit diketahui potensinya menjadi alternatif pengganti pembangkit listrik berbahan bakar fosil. Selain lebih ramah lingkungan juga tidak membawa pengaruh signifikan pada kehidupan biota laut. Salah satu sistem pembangkit listrik tenaga ombak yang cukup layak untuk diperhitungkan yaitu sistem pembangkit listrik cantilever piezoelektrik. Piezoelektrik merupakan fenomena terjadinya muatan listrik ketika sebuah gaya mengenai permukaan bahan, sehingga piezoelektrik dapat dimanfaatkan menjadi pembangkit listrik. Sistem pembangkit listrik piezoelektrik berbasis tenaga ombak memanfaatkan guncangan dari ombak yang akan memberikan tekanan pada plat piezoelektrik yang semakin diperkuat menggunakan cantilever kecil yang dipasang di dalam sistem. Adanya cantilever dapat memperbesar tekanan yang diterima oleh piezoelektrik karena gaya dorong yang ditimbulkan dari adanya masa beban pada pegas akan meningkatkan gaya aksi-reaksi dari pegas dengan cantilever. Sistem pembangkit listrik ini dapat menghasilkan listrik sebesar 103 W atau 1500 mJ dalam periode waktu gelombang sekitar 10 detik dan ampliitudo gelombang 1,3 meter. Apabila pembangkit listrik bertenaga piezoeletrik diterapkan di Indonesia, maka kemungkinan bease masalah krisis energi dapat terpecahkan dan Indonesia juga dapat mengatasi defisit energi listrik. 
 
Penulis
Venisha Yosephi
Mahasiswa Fakultas Teknik Pertanian (FTP)
Universitas Brawijaya