Foto : T. Kurniawan Jurnalis penikmat masalah sosial

Antara Ahok, Manusia perahu dan Bukit Duri

kur | Selasa , 19 April 2016 - 23:46 WIB

Selang sehari setelah upacara inagurasi Jokowi-Ahok karena terpilih sebagai gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017, pada tanggal 16 Oktober 2012, Jokowi dengan disertai rombongannya, yaitu walikota, para kepala dinas Pemprov DKI, camat, lurah, mendatangi Sanggar Ciliwung Merdeka diBukit Duri, bantaran sungai Ciliwung, untuk mengucapkan terima kasihnya yang tulus atas dukungan mereka.
 
Pada kesempatan dialog publik yang terbuka, tenang, bersuasana semangat perjuangan yang magis nan menyentuh, dengan perwakilan komunitas-komunitas warga pinggiran Jokowi sebagai gubernur baru, mempersilahkan komunitas warga Bukit Duri yang didampingi Ciliwung Merdeka, menyampaikan konsep pembangunan kampung yang sesuai dengan keinginan mereka.
 
Pada kesempatan itu di sampaikan design "Kampung Susun Manusiawi Bukit Duri" (KSM-BD). Hari itulah mereka Jokowi- ahok mengucap janji. Bahwa kampung-kampung di bantaran sungai di Bukit Duri dan Kampung Pulo, tidak akan digusur, melainkan hanya akan dilakukan revitalisasi, pembangunan perbaikan kualitas kehidupan kampung kembali. Namun ada syarat dari Jokowi dan Ahok bahwa bahwa rencana pembangunan "Kampung Susun Manusiawi Bukit Duri" sebanyak 420 unit itu, harus disetujui mayoritas warga yang akan menempatinya (RT 06, 07, 08 RW 012, Kelurahan Bukit Duri, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan). Dan yang terpenting pembangunan itu juga harus sesuai ketentuan hukum yang berlaku di Pemprov DKI. Semua sepakat, sekarang semua bisa tersenyum melihat betapa Rusunami mampu mengubah hidup mereka jadi lebih nyaman.
 
Warga di perkampungan-perkampungan seperti Luar Batang, Kampung Pulo, Bukit Duri adalah manusia yang sama.
Pada dasarnya merekalah yang paling faham tentang apa yang mereka butuhkan dalam hidup mereka di lingkungan dan bersama warga Jakarta lainnya. Segala alternatif inovasi dan solusi yang berasal dari luar kehidupan mereka, harus didialogkan dan diintegrasikan dengan hidup mereka.
 
Fenomena kehadiran manusia perahu pasca penggusuran warga Luar batang, adalah sebuah potret dialog yang gagal oleh Ahok dan Djarot Syaiful hidayat. Puja -puji untuk warga Luar batang yang sudah nyaman di Rusunami, jangan sampai mengubur fakta bahwa manusia perahu itu ada dan jumlahnya puluhan.
 
Kebanyakan pria di luar batang adalah nelayan, sedang istri mereka adalah pedagang ikan. " Ngapain Rusun, gratis 3 bulan doang. Tempat usaha ngga dikasih. Punya KTP KK DKI. Saya nelayan dan pedagang ikan, saya tidak bisa jauh dari laut, saya pilih perahu" kalimat itu yang menjadi jawaban mereka, nyaris seragam ketika di tanya kenapa pilih tinggal di perahu.Sekali lagi, disinilah pentingnya dialog. Dan pemindahan warga Luar batang dengan jarak tiga kali surat peringatan yang jaraknya teramat singkat, adalah potret kegagalan dialogis.
 
Bagi saya yang hanya membaca sejarah jakarta lewat buku, artikel serta berdiskusi dengan mereka yang saya anggap lebih paham. Satu hal bahwa menggusur pasar ikan Luar batang adalah menghancurkan peradaban. Di pasar ikan itu Sejarah Batavia di mulai.
 
Jika memakai perspektif tujuh unsur kebudayaan Prof Koentjaraningrat, warga Kampung Luar Batang dan pasar ikan telah dirampas paling tidak dua, yaitu sistem kemasyarakatan dan sistem ekonomi dan mata pencaharian.
 
Kehadiran "manusia perahu" pasca penggusuran Luar Batang adalah wujud nyata dari kegagalan pembangunan, dari sebuah proses penghancuran peradaban yang berjalan. Nyinyir dan mencibir manusia perahu tanpa empati, adalah potret pemujaan untuk tokoh idola tanpa nurani.


DPP IMM: Relokasi Warga Cinangka Yang Terpapar Timbal