Foto : Kerusakan kantor kemendagri akibat aksi suruh aliansi yang mengatasnamakan dirinya Barisan Merah Putih Tolikara, Rabu (11/10/2017). (net)

Berikut Kronologi Penyerangan Kantor Kemendagri

kis | Kamis , 12 Oktober 2017 - 11:12 WIB

Publicapos.com – Pristiwa menegangkan di lingkungan Kantor Kementerian Dalam Negeri bermula saat Rabu sore (11/10) pukul 15.00 wib. Massa berjumlah puluhan orang dari Tolikara, Papua, mengamuk di areal komplek kantor yang terletak di kawasan Monas, Jakarta Pusat.
 
Akibat Amukan massa yang ricuh itu banyak korban luka dan materi dari pihak Kemendagri maupun jurnalis yang meliput.
 
Massa yang mengatasnamakan dirinya Barisan Merah Putih Tolikara pendukung calon pasangan kepala daerah Kabupaten Tolikara, John Tabo-Barnabas Weya di Pilkada 2017. 
 
Mereka datang ke Jakarta untuk menuntut Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo membatalkan keputusan Pilkada di kabupaten mereka. John Tabo adalah pasangan yang kalah dalam Pilkada setelah digelar pemungutan suara ulang (PSU). Mahkamah Konstitusi juga menolak permintaan John Tabo-Barnabas Weya mendiskualifikasi suara 18 distrik.
 
Putusan tersebut mengukuhkan kemenangan pasangan petahana Usman G Wanimbo-Dinus Wanimbo di Pilkada Tolikara.
 
"Mereka tidak mau tahu keputusan KPU (yang mengesahkan hasil Pilkada) dan keputusan MK menurut mereka tidak adil," ujar Mendagri Tjahjo Kumolo usai peristiwa mengamuknya massa Barisan Merah Putih.
 
Amukan massa pendukung calon bupati itu sendiri kemudian bisa diredam sekitar pukul 15.30 WIB. Polisi diterjunkan untuk menjaga situasi kondusif.
 
Berdasarkan hasil pendalaman kepolisian, kelompok Barisan Merah Putih Tolikara itu terpantau sudah bolak-balik gedung Kemendagri selama dua bulan terakhir. 
 
Kabid Humas Polda Metro Jaya Argo Yuwono menyatakan, mereka datang bertahap setiap harinya, termasuk memantau, dengan jumlah orang yang berbeda-beda.
 
Kemarahan massa yang berujung kerusuhan di kantor Kemendagri kemarin, kata Argo, diduga akibat mereka gagal bertemu Mendagri untuk mendesak keinginan mereka.
 
Mendagri Tjahjo sendiri menegaskan dirinya telah mendelegasikan pertemuan itu kepada Direktur Jenderal Otonomi Daerah Soemarsono dan Direktur Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri Soedarmo.
 
Tjahjo mengaku sempat berbicara dan menerima perwakilan massa sebelum kerusuhan terjadi. Pertemuan tersebut berlangsung Selasa (10/10) malam.
 
"Saya sampaikan, kalau mau dialog tanya masalah pilkada silahkan besok (Rabu) ke Ditjen Polpum/Otda, bicara baik-baik. Kedua Kelompok yang berbeda sikap terkait keputusan Pilkada sudah sering diterima kedua Dirjen tersebut," ujar Tjahjo.
 
Versi Kemendagri, penyerangan terjadi beberapa saat jelang pertemuan antara perwakilan massa Barisan Merah Putih dengan Soedarmo dan Soemarsono.
 
Pertemuan itu akan membahas sengketa Pilkada Tolikara yang telah diputuskan Mahkamah Konstitusi. Perwakilan tiba-tiba keluar ruangan saat pertemuan akan digelar. Selanjutnya, tanpa alasan yang jelas massa yang menunggu di luar bergerak menyerang kantor Kemendagri.
 
Serangan massa itu mengakibatkan kerusakan fisik di kantor Kemendagri. Kaca dan pot milik di Gedung F dan B Kemendagri pecah. Sebuah mobil dinas Kemendagri juga mengalami kerusakan akibat amuk massa.
 
Adapun jumlah korban mencapai 10 orang, dan itu diketahui setelah istri Tjahjo Kumolo, Erni Guntarti, saat mengunjungi korban di rumah sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto (RSPAD), Rabu (11/10) malam. Kunjungan dilakukan Erni mewakili Tjahjo yang masih berada di luar kota.
 
"Syukur tidak ada korban jiwa, semoga segera sembuh semua," ujar Erni di RSPAD Gatot Subroto.


Penyerangan Kantor Kemendagri: Polda Metro Jaya Tetapkan 11 Orang Sebagai Tersangka

Siapa Aktor di Balik Penyerangan Kantor Kemendagri?

Penyerangan Kantor Kemendagri Merupakan Bentuk Kejahatan Terhadap Demokrasi