Foto : Ketua Komisi VII DPR-RI, Gus Irawan Pasaribu

Premium Langka Dimana-Mana, Komisi VII Berang dan Marah

rhr | Jumat , 24 November 2017 - 07:15 WIB

Publicapos.com - Ketua Komisi VII DPR-RI, Gus Irawan Pasaribu mengaku berang atas kelangkaan premium di Indonesia termasuk Sumatera Utara (Sumut) karena diduga ulah Pertamina sendiri sebagai penyalur BBM premium dan solar bersubsidi. Gus lalu memaparkan data kenapa premium menghilang di SPBU-SPBU.

“Begini, saya benar-benar marah atas kelangkaan ini. Kita tahu seperti apa permainan Pertamina. Pertamina sebenarnya badan usaha milik negara yang ditugaskan pemerintah menyalurkan premium dan solar bersubsidi,” kata Gus Irawan, Rabu (23/11/2017).
   
Ia menjelaskan, Pertamina mengemban tugas negara untuk menyalurkan premium  sesuai Peraturan Presiden No. 191 Tahun 2014 Tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Harga Jual Eceran Bahan Bakar Minyak.

“Faktanya di lapangan sekarang terjadi kelangkaan premium hampir di semua daerah. Di Indonesia iya dan paling parah terjadi di Sumut,” jelasnya.

Gus Irawan yang juga Wakil Ketua Fraksi Gerindra ini menambahkan dari data penugasan kepada Pertamina untuk menyalurkan premium selama 2017 harus tersedia 12.500.000 kiloliter premium. Ternyata sampai Oktober penyalurannya baru 6.023.000 kiloliter atau sekitar 48 persen.

“Lah saya terima laporan premium kosong dimana-mana. Lebih parah lagi di Sumut. Harusnya premium bersubsidi sepanjang tahun ini harus disalurkan Pertamina 1.680.000 kiloliter. Ternyata realisasi penyaluran di Sumut hanya 492.000 kiloliter atau 29 persen. Nyatanya tak sampai 30 persen. Ini pertanda apa,” jelasnya.
   
Gus menuding Pertamina mengangkangi penugasan negara. Melakukan tindakan sendiri dengan mengarahkan agar premium hilang kemudian masyarakat beralih ke Pertalite. Menurutnya, kenapa BBM langka karena ada indikasi permainan SPBU.

“Ya saya waktu itu seperti membela Pertamina bahwa kelangkaan ulah pengusaha SPBU. Karena margin mereka saat menjual premium bersubsidi Rp275 per liter. Sementara kalau mereka jual Pertalite dapatnya Rp325 per liter," bebernya.

Faktanya sekarang, jelasnya, ketahuan yang tidak menyalurkan premium bersubsidi itu Pertamina sendiri karena realisasi yang harusnya disediakan tidak tersalur secara efektif.

“Kenapa premium langka. Terjawab sudah. Karena disengaja Pertamina. Fakta lho. Saya baru selesai reses keliling daerah pemilihan. Malah banyak aduan pengusaha SPBU yang kecewa karena tidak mendapat kuota premium,” jelasnya. (rhr)


Peringati Hari Santri, Gus Anton: 'Akhlakul Karimah' bagi Santri Harga Mati

Selain dengan Pimpinan DPR, Perwakilan Aksi Massa 299 Juga Dijadwalkan Bertemu Komisi II

Wakil Ketua DPR Akan Temui Massa Aksi 299