Foto : T. Kurniawan, Redaktur Pelaksana Publicapos.com

Palu Arit, Rayap NKRI dan Khilafah

awan | Sabtu , 14 Mei 2016 - 13:57 WIB

Dalam beberapa pekan belakangan eskalasi ketegangan menyikapi kebangkitan PKI makin mencemaskan. Beragam informasi berhamburan di media sosial, di bumbui kisah-kisah menyeramkan masa lalu.  Ormas-ormas yang berbaju keagamaan, kepemudaan, anggota DPR, hingga tentara juga urun suara.

Dengan kopi saya mencoba mencerna sebisanya, apa yang sebenarnya terjadi. Iseng saya bertanya kepada beberapa kawan yang memposting info-info mengenai kebangkitan PKI ini. Saya meminta di tunjukan dimana mereka bangkit, panas juga hati ini dengarnya. Arit dari kakek Pardi sudah saya pinjam, juga sekalian palu yang biasa di pakainya untuk membelah pohon bambu itu.

“ Ayo tunjukan dimana mereka, saya sudah siapkan arit dan palu. Berani macam-macam tak palu PKI itu”

Teman saya mendinginkan,  “seng sabar, jangan nesu. Wajahmu jadi lucu itu kalo nesu”  saya coba berkaca saya ingin melihat wajah lucu saya, ternyata benar. Daripada malu di bilang lucu, lebik baik saya tahan marah, tidak nesu lagi.

Tapi saya masih penasaran, bagaimana PKI ini bisa bangkit lagi dari kematiannya yang sudah 50 tahun lalu. Setahu saya TAP MPRS 25 / 1966 telah memasung kakinya dengan rantai, menanam partai berhaluan komunis ini ke lubang kubur paling dalam, mengecornya dengan semen dan menandai area kuburannya sebagai “ danger area”. Bagaimana bisa hidup kembali, kalau toh bisa hidup bagaimana ia bisa bangkit dari kuburnya itu.

Teman menunjukan sebuah foto berisi AD/ ART PKI yang beredar sejak 2010 lalu yang ia sendiri tidak tahu di mana lokasi foto itu di ambil. Lalu ada lagi yang menunjukan broadcast bahwa PKI sudah mencetak puluhan ribu kaos dan buku yang akan di bagikan secara massal. Ada lagi, yang bilang telah di temukan buku komunis “ Palu arit di ladang tebu” yang setahu saya itu buku hasil riset Disertasi yang memang sudah lama ada. Lalu ada lagi foto orang narsis yang pakai kaos palu arit souvenir dari Vietnam pada perayaaan hari buruh. Yang paling lucu adalah kaos band ‘ Kreator’ asal Jerman yang di sangka itu kaos PKI.

Ah…, saya harus menambah lagi kopi saya untuk memahami ini. Tak cukup bukti, saya kembalikan palu  ke kakek Pardi, “ Mbah, palunya untuk belah bambu saja, karena PKI nya sudah ngilang. Aritnya saya pinjam dulu untuk babat rumput ’’. Pada kakek Pardi saya berjanji untuk pinjam palunya lagi jika ada yang mau macam-macam dengan Pancasila.

Dengan tersenyum, kakek Pardi menerima palunya. Lalu bercerita banyak, tentang Pancasila.

Kalau kamu dari Cinangka menunju Pondok indah lewat Terminal Lebak bulus, pada siang hari. Di pinggir jalan di halaman rumah mewah Pondok Indah itu kamu lihat banyak berderet buruh tukang gali. Mereka duduk menunggu dengan cangkul dan gancu.

Di bawah terik matahari yang menyengat tanpa pelindung mereka akan bekerja. Menggali tanah, menguras got, atau bongkar muatan pasir. Demi sesuap nasi untuk anak istri, upah berkisar 50 sampai 10 0 ribu rupiah per hari mereka kais dengan peluh mengucur sepanjang kerja.

Soal makan, pastilah seadanya, asal perut merasa kenyang dengan hidrat arang. Pasti bukan karena pilihan terbaik mereka bekerja di situ – melainkan keterpaksaan. Andai saja dia bisa memilih pastilah mereka memilih pekerjaan yang lebih enak dengan upah yang lebih besar, “sukur-sukur” bisa korupsi.
Jadi meski mereka memasuki sektor kerja itu secara suka-rela, tetap saja ada unsur keterpaksaannya. Meski dengan upah atau gaji, dengan segala kondisinya yang dirty, danger, difficult (3 D) tetap saja melekat aspek kerja rodi di sana.

Adakah para pemimpin dan elite republik ini, para politisi yang terhormat berani mengucapkan – “inilah konsekuensi negara Pancasila!”. Atau “inilah konsekuensi ketika Pancasila belum dihayati oleh seluruh rakyat Indonesia”.  Bisa jadi para pekerja kasar tadi pernah mengikuti penataran P4 walau di tingkat desa, atau setidaknya pernah mengikuti simulasi P4 atau Santiaji Pancasila di jaman Orde Baru.

Lewat penataran, simulasi atau santiaji, kepada mereka diajarkan untuk “tepa slira” (toleran). Maka merekapun harus tepa slira meski diperlakukan mirip kerja rodi. Mereka harus legowo jadi orang miskin dan tidak boleh iri dengan orang kaya meskipun dengan menindas dan memeras mereka, atau karena korupsi.

Pancasila adalah sebuah teks ringkas yang disarikan dari Pidato Soekarno di depan Sidang BPUPKI pada tanggal 1 Juni 1945 -  yang kemudian dituangkan kembali dalam rumusan Pembukaan UUD 45. Sebagai teks yang berisi semacam rumusan  nilai-nilai yang berfungsi sebagai kaidah, sama sekali bukan “mantera” apalagi  “jimat”.

Maka jelas sama sekali  tidak mungkin  ia mengandung hal-hal gaib yang bisa menjadikannya “sakti”. Begitu pula substansi maknanya – jauh dari hal yang mengandung kesaktian. Bahwa ia merupakan produk brilian sebagai dasar atau kaidah penyelenggaraan negara, sulit untuk dipungkiri. Kalau ada yang mengatakan Pancasila itu dari Tuhan, silahkan banyak minum kopi, biar cepat sembuh.

Point-point yang disampaikan oleh Soekarno di depan Sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, adalah merupakan Jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh dr. Radjiman Wedyodiningrat selaku Ketua Sidang – “atas Dasar apakah Negara yang akan kita dirikan nanti?”.

Maka jelas sejak dari awal disampaikan oleh Soekarno bahwa Pancasila dimaksudkan sebagai DASAR NEGARA , atau Kaidah Penyelenggaraan Negara – dan sama sekali bukan kaidah moral individual.

Hubunganya dengan PKI apa kek? Ujarku sembari menyeruput kopi, yang di hidangkan istri kakek Pardi.

'' Ibarat menegakkan benang basah apabila rakyat berharap Pemerintah segera sadar dan merubah sikap serta kembali meletakkan dengan benar Pancasila sebagai Dasar Negara. Kerja rodi dan penindasan masih akan berlansung di “negeri Pancasila” ini, ketika para elite, pengamat dan para pakar masih bias dalam memahami Pancasila.”

Kini negeri ini sedang heboh dengan isu PKI bangkit lagi. Entah pekerjaan siapa, fakta dan buktinya juga masih asumsi, butuh di uji lagi. Tetapi Ada ancaman jelas-jelas nyata namanya Khilafah, ada yang pakai topeng organisasi, ada yang pakai topeng pembela NKRI.Mereka pakai topeng pembela NKRI – tapi tidak kalah ekstrimnya dan juga menyeramkan, gemar melakukan pemaksaan bahkan dengan kekerasan. 

Dahulu Soekarno (Bung Karno) sering menyebut orang-orang tolol seperti itu sebagai “ sontoloyo”.  Mereka sering mengganggu, mengacau – mungkin tidak terlalu bahaya tapi bikin gatal seperti semut. Dan kalau dibiarkan memang akan selalu mengacau dalam proses pencapaian cita-cita bersama didirikannya Republik ini.

Yang lebih sering diserukan oleh Soekarno mengenai para pengacau negeri ini adalah “antek-antek nekolim”.  Mereka ini dilihat oleh Soekarno sebagai hal yang lebih membahayakan, karena di belakangnya adalah kekuatan besar kapitalis dunia. Tidak seperti semut yang cuma bisa bikin gatal, tapi mereka seperti rayap -  jinak lembut terkadang lucu, tapi pada saatnya mampu menghancurkan tiang dan merobohkan rumah. 

“Awas Nekolim (Neo kolonialisme – Imperialisme),  dan antek-anteknya, mereka siap menguasai dan menghancurkan negeri ini “– demikian peringatan Soekarno menjelang masa akhir kekuasaanya.

Barangkali Soekarno memang sudah makin merasakan gelagatnya. Jauh hari sebelumnya  dia sering mengingatkan akan tiga bentuk umum operasi nekolim ini, yakni eksploitasi ekonomi, dominasi politik, dan infiltrasi budaya. Siapa antek-anteknya?,  dan bagaimana kerja mereka? Mereka adalah orang-orang bangsa sendiri yang membuka ruang untuk memuluskan jalan  bagi beroperasinya Nekolim itu.

Ketika Soekarno berkali-kali menyampaikan peringatannya itu, banyak dari elemen bangsa ini yang masih bertanya-tanya  apa maksud Soekarno – karena memang masih agak abstrak saat itu.

Bagaimana eksploitasi ekonomi?,  apa dan bagaimana bentuk dominasi politik?,  dengan cara apa infiltrasi budaya? Semuanya masih serba abu-abu saat itu. Hari ini, semuanya nampak lebih jelas dan sudah tidak abu-abu lagi. Eksploitasi ekonomi, sudah begitu jelas. Sumber Daya Alam sebagian besar dikelola oleh pihak asing – yang pasti lebih menguntungkan mereka ketimbang untuk anak negeri ini.

Kebanggaan semu industri otomotif – karena sesungguhnya biang yang empunya pihak asing juga – terutama Jepang. Masih banyak contoh lain. Intinya “di sinilah lahan buruh murah, sumber bahan baku, dan sekaligus pasar - dan karenanya bangsa ini harus dibikin sangat konsumtif “.  Dalam kaitan yang terakhir inilah sekaligus infiltrasi budaya dijalankan. Sebegitu dalam infiltrasi budaya telah merusak anak negeri ini.

Selain konsumtif, juga krisis etika, hedonis, boros – adalah sikap yang  gampang kita jumpai di semua strata. Kultur masyarakat agraris dikoyak-koyak  dengan industrialisasi yang instant. Industrialisasi dengan substitusi impor ini tidak hanya lebih menguntungkan pihak asing, melainkan juga disertai  dampak ikutan berupa melenyapnya sejumlah kearifan lokal.

Ah…makin tidak mudeng saya. Nampaknya harus minum lebih banyak kopi lagi. Tapi tiba-tiba ada yang aneh dalam celana saya, sesuatu yang bergerak.  Pelan menggigit, rupanya ada rayap. Sambil minum kopi, saya memitesnya “ Demi Pancasila, mati saja Khilafah”