Foto : Tafsir Al Munir yang menggunakan bahasa Bugis dengan aksara lontara

TAFSIR AL - MUNIR, TAFSIR AL-QURAN BERBAHASA BUGIS ( UGI ) KARANGAN AGH. DAUD ISMAIL

mufid | Sabtu , 12 November 2016 - 18:48 WIB

Salah satu Kitab yang Mulia di turunkan Allah kepada Nabinya adalah Al-Qur’an . Al-Qur’an merupakan firman Allah Swt, yang di wahyukan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantaraan malaikat Jibril. Al-Qur’an di turunkan dengan berbahasa Arab atau bertulisan Arab. Al-Qur’an tidak sekaligus di bukukan atau dalam berbentuk Nash, namun di tulis dalam pelepah kurma, bebatuan atau tulang-tulang. Al-Qur’an mulai di kumpulkan setelah masa Usman Bin Affan yang menjadi khalifah saat itu.

Al-Qur’an dengan bahasa arab, jarang akan di ketahui makna dan penafsirannya. Al-Qur’an yang di  turunkan berbahasa Arab mempunyai nilai sastra yang tinggi. Tidak sedikit orang yang bukan orang Arab, yang tidak mudah memahami isi al-Qur’an meski kitab suci ini telah di terjemahkan ke dalam bahasa setempat. Bahkan, bangsa Arab sendiri juga tidak semuanya memahami denga baik isi Al-Qur’an.  Maka berbagai kalangan Ulama berusaha mengungkapkan penafsiran serta terjemahan Al-Qur’an itu dengan bahasa Nusantara atau Daerah. Salah satu penafsiran Al-Qur’an berbahasa Daerah adalah Tafsir Al-Munir, Tafsir Al-Qur’an yang berbahasa bugis (Ugi) . Tafsir ini di tulis salah satu Ulama Kharismatik yang berasal dari daerah Bugis bagian Sulawesi Selatan. Ulama tersebut adalah Anre Gurutta  KH. Daud Ismail. Beliau menerjemahkan dan menafsirkan Al-Qur’an dalam berbahasa Bugis (Ugi) atau bertuliskan Lontarak  Bugis. Dengan terjemahan dan penafsiran tersebut agar masyarakat yang awam mampu mengerti akan kandungan ayat-ayat dalam Al-Qur’an. 
 
Dalam penafsiran AL-Qur’an sangat di butuhkan, karena tidak semuanya umat Islam dapat memahaminya dengan mudah. Padahal sebagai petunjuk dan rahmat bagi manusia, al-Qur’an harus menjadi Fungsional bagi umat Islam. Maka dalam memenuhi tujuan tersebut, ayat-ayat al-Qur’an yang umumnya berisikan konsep, prinsip-prinsip pokok yang belum terjabar dan di operasionalkan agar dapat dengan mudah di publikasikan dalam kehidupan manusia. Dalam konteks itulah, kehadiran sebuah tafsir bahasa Nusantara semisal Bahasa Bugis (Ugi) dan lainnya- terasa sangat di perlukan. Selain itu juga, kebutuhan akan penafsiran terasa sangat mendesak, mengingat sifat redaksinya yang beragam, yakni ada yang jelas dan ada yang terperinci, tetapi ada pula yang samar dan global. Jangankan yang samar dan global, yang jelas dan rinci sekalipun masih membutuhkan penafsiran.  
 
Biografi AGH. Daud Ismail
KH. Daud Ismail atau AGH. Daud Ismail di lahirkan pada tanggal 30 Desember 1908 di Cenrana Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan.  Ayahnya bernama Haji Ismail bin Baco Poso dan Ibunya bernama Hajah Pompola Binti Latalibe. Kedua orangtuanya merupakan orang yang terpandang dan tokoh masyarakat di daerah Soppeng. Gurutta KH. Daud Ismail adalah anak bungsu dan satu-satunya laki-laki dari sebelas bersaudara dan menikah selama tiga kali dalam hidupnya. Dalam pernikahannya itu di karunia 5 orang anak, 3 orang laki-laki dan 2 orang perempuan. Dari Istri pertamanya di karunia 2 0rang anak, Istri ke dua tidak di karunia anak. Dan pada perkawinannya yang ketiga ini beliau di karunia 3 orang anak. 
 
Dalam pendidikannya, AGH. Daud Ismail itu di tempa berbagai ilmu pendidikan yang di bina oleh ulama-ulama terkenal pada masa itu, baik ulama yang berasal dari lingkungan tempat tinggalnya, daerah sekitarnya bahkan ulama dari Tanah Suci Mekkah Al-Mukarramah. AGH. Daud Ismail pertama kali belajar membaca Al-Q dari seorang guru perempuan yang bernama Maryam, beliau di kenal mempunyai kepiawan dalam mendidik dan mengajarkan membaca Al-Quran kepada anak-anak sehingga apa-apa yang di ajarkannya merupakan dasar bagi pembentukan kepribadian yang tangguh  untuk setiap anak didiknya. AGH. Daud Ismail secara formal tidak pernah duduk dan belajar pada lembaga-lembaga pendidikan formal seperti sekolah-sekolah umum baik yang berstatus sebagai sekolah negeri maupun partikelir. Kemampuannya dalam membaca dan menulis huruf lontarak Bugis maupun huruf latin, beliau dapatkan secara otodidak. 
 
AGH. Daud Ismail banyak menguasai berbagai bidang Ilmu agama Islam melalui guru-gurunya yang tersebar di berbagai tempat. AGH. Daud Ismail senantiasa tidak pernah merasa puas untuk selalu belajar dan mengkaji kitab-kitab kuning yang mengupas masalah-masalah agama, seperti kitab-kitab tauhid, hadits, tafsir, fiqhi, tasawuf dan sebagainya sehingga beliau rela mendatangi ulama-ulama yang ada di sulawesi selatan ketika itu untuk menimba ilmu darinya. AGH. Daud Ismail memiliki guru yang banyak, sehingga ilmu beliau banyak juga di dapatnya. 
 
AGH. Daud Ismail yang akrab dengan panggilan Gurutta Haji Dauda sewaktu mudanya bersama-sama Kyai Haji Ambo Dalle, Kyai Haji M. Yunus Marathan, Kyai Haji M. Abduh Pabbaja belajar ilmu agama Islam pada Kyai Haji Muhammad As’ad yang kemudian di kenal dengan sebutan Gurutta Haji Sade tokoh ulama pendiri Madrasatul Al-Arabiyah Al-Islamiyah (MAI) di Wajo pada awal tahun 1930. Karena penguasaan ilmu yang di warisi dari Gurutta Haji Sade, maka AGH. Daud Ismail juga di angkat sebagai guru bantu di samping kedudukannya sebagai santri di Madrasah Al-Arabiyah Al-Islamiyah Wajo.  
 
Buku dan karya-karya KH. Daud Ismail
Dalam mengembangkan Syiar Islam, AGH Daud Ismail melakukannya dengan berbagai macam cara antara lain selain dakwah bil Lisan yaitu dengan memberikan ceramah-ceramah agama pada masyarakat, melalui jalur pendidikan formal maupun semi formal yaitu dengan mendirikan pondok pesantren, melalui jalur struktural birokratis pemerintahan baik sewaktu beliau masih berkedudukan sebagai pegawai negeri sipil maupun sewaktu beliau menjabat sebagai ketua Majelis Ulama Kabupaten Soppeng. Penyebaran dan pengembangan syiar Islam juga beliau salurkan melalui tulisan-tulisan yang beliau hasilkan.
Karya-karya AGH Daud Ismail yang berupa tulisan berbentuk lembaran-lembaran, brosur-brosur serta kitab-kitab yang beliau susun banyak yang telah di cetak dan di terbitkan untuk di publikasikan kepada masyarakat. Di antara karya-karya AGH Daud Ismail adalah:
1.Kitab Tafsir Al-Munir terdiri atas 30 Juz, Kitab Tafsir yang di tulis dalam bahasa bugis.
2.Riwayat Hidup AG. Kyai Haji Muhammad As’ad (Gurutta Sade) yang di tulis dalam tiga bahasa yaitu Bahasa Bugis, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Arab.
3.Pengetetahuan Dasar Islam yang terdiri 3 Jilid
4.Hukum Puasa
5.Hukum Salat
6.Hukum Nikah
7.Kumpulan Khutbah Jumat
8.Kumpulan Doa-Doa
9.Fatwa-Fatwa 
 
Sekilas dan Karakteristik Tafsir Al Munir
Tafsir ini di sebut oleh AGH Daud Ismail sebagai Tafsir Al-Munir. Sebuah Tafsir  yang di tulis dalam tulisan bahasa bugis (Ugi), yang di sebut tulisan lontarak Ugi. Tafsir ini adalah Tafsir AlQur’an 30 Juz yang di terjemahkan dan di tafsirkan dalam bahasa bugis (Ugi). Penafsir AGH Daud Ismail menulis dan membagi Tafsir ini dalam 10 Jilid dan tiap 1 jilid itu berisikan 3 juz. Sebagaimana AGH Daud Ismail mengatakan pada muqaddimah Tafsirnya yang berbahasa bugis (Ugi) ini:
Parellui ri seseku pannessai /ranpei asukkurukeng tenriganka risese arajanna Puang Allah Taala ri wettu napakedona muannessi atikku cetak’i tafserekku iyya mabbicara ugie. Nainappani INSYA ALLAH naiiya ricetak barue ri jili’i, maumpe’ pakkulina, sarekkuammengngi na maitta tahan. Naiyya sitemmerengnge Akorang ripancajiwi seppulo jilid, tattelu juz seddi jilid. 
Artinya: bahwa sangat penting bagi saya menyampaikan, rasa syukur kepada Allah Swt., yang menggerakkan hati saya untuk menafsirkan dan mencetak tafsir ini dalam berbahasa bugis (Ugi). Insya Allah Tafsir ini di tulis, tebal pembungkusnya agara dapat tahan lama. Serta di cetak menjadi 10 jilid, dan 3 juz tiap perjilid. 
 
Dalam penulisan tafsir al-Qur’an yang bahasa bugis ini merupakan sebuah tafsir yang tujuannya adalah untuk memudahkan masyarakat bugis yang kurang dalam memaknai atau isi al-Qur’an. Maka AGH Daud Ismail berinisiatif menerjemahkan dan menafsirkan al-Qur’an dalam bahasa bugis atau bertuliskan lontarak Ugi sebagaimana yang telah di terjemahkan oleh Kemenag. Tujuan yang lain adalah agar bahasa dan tulisan lontarak Ugi tetap terjaga sampai kiamat sehingga di gunakanlah dalam penerjemahan dan penafsiran Al-Qur’an ini. Setelah Tafsir ini selesai di tulis, AGH Daud Ismail menginginkan kepada masyarakat yang tergabung dalam daerah sebutan Tellu Mpoccoe yaitu daerah Bone, Soppeng, Wajo untuk membacanya. Serta Tafsir ini harus di simpang di Masjid-masjid atau tempat pengajian agar lebih luas di baca dan di pelajari oleh masyarakat yang ada di daerah tersebut. 
 
Begitu pula AGH Daud Ismail dalam menghadirkan Tafsir Bahasa Bugis ini di tengah-tengah masyarakat Bugis sebagai jawaban terhadap kekosongan literatur yang dapat di baca oleh masyarakat Bugis yang kurang mengerti atau mampu membaca literatur yang berbahasa Arab dana Latin (Bahasa Indonesia). Di samping hal tersebut, keberadaan tafsir bahasa Bugis ini adalah untuk memelihara bahasa Bugis dari kepunahan dan memberikan pemahaman terhadap ajaran-ajaran Islam yang benar melalui petunjuknya dari Al-Qur’an.
 
 Tafsir Al-Munir ini, di tafsirkan dalam kelompok 3 sampai 10 ayat. Kadang juga 2 ayat atau lebih di gabung dan di jelaskan terperinci akan tafsirannya. Setiap akhir juz di jelaskan tentang di mulai juz berapa sampai juz berapa serta nama surahnya. Seperti juz 19 yang di mulai surah Al-Furqan ayat 21 sampai akhir ayat 77, kemudian di sambung surah Asy-syuara’ sebanyak 227 ayat, kemudian di sambung surah An-naml ayat 1 sampai ayat 59 (penghabisan Juz 19), begitu seterusnya sampai 1 jilid itu di tulis sebanyak 3 juz. Juz 19 di tulis selesai pada hari rabu, 1 Rajab 1406 H/ 12 Maret 1986 M , di kota Soppeng. Juz 20 di tulis selesai pada hari Ahad, 30 Zulqaidah 1407 H/ 26 Maret 1987 M.  Sedangkan juz 21 di tulis selesai pada hari Jumat, 11 Jumadil awal 1408 H/ 1 Januari 1988 M. 
Tafsir ini juga oleh AGH Daud Ismail mengutip beberapa tafsir yang di sebutkan dalam kitab Al Munir ini, yaitu: 
 
Al-Qur’an dan terjemahannya Departemen Agama Republik Indonesia, penulis Muhammad As’ad al-Bafhy, Pare-pare.  
 
Metodelogi Tafsir Al-Munir
Sebagai sebuah disiplin ilmu, tafsir tidak terlepas dari pendekatan yang mampu menafsirkannya. Di mana pendekatan di sini adalah cara yang sistimatis untuk mencapai tingkat pemahaman yang benar tentang pesan al-Qur’an yang di kehendaki Allah. Dengan demikian, pendekatan tafsir dapat diartikan sebagai suatu prosedur sistematis yang di ikuti dalam upaya memahami dan menjelaskan maksud kandungan al-Qur’an.
Dalam studi ilmu tafsir yang telah di pahami ada beberapa ciri pokok yang perlu di lihat dalam setiap membahas pendekatan tafsir suatu karya tafsir, yakni teknik, bentuk dan coraknya. Ciri pertama adalah di cari teknik penafsirannya, yaitu bagaimana suatu tafsir menggunakan teknik pembahasannya. Apakah ia menggunakan teknik analisis (tahlîli), global (ijmâli), perbandingan (muqâran) atau tematik (mawdhû’iy). Ciri kedua mengutarakan suatu bentuk penafsiran ayat, yaitu sejauhmana suatu tafsir menggunakan sumber-sumber penafsiran; baik ayat-ayat al-Qur‘an, riwayat hadis, isrâiliyyât ataupun al-ra’y. Cara seperti ini memiliki dua bentuk yaitu tafsir bi al-ma’tsûr dan al-ra’y.
Dalam tafsir Al-Munir oleh AGH Daud Ismail ini menganut tafsir bi al-ma’tsur, hal ini bisa di lihat dari ungkapannya yang mengatakan “Naiyya Akorangnge Saisannamuto tafserei saisanna”  artinya bahwa Tafsir Al-Qur’an ini menafsirkan bagian dengan bagian lain. Banyaknya kutipan-kutipan al-Qur’an, hadits, ataupun tafsir yang di kutipnya, sebagai contoh di antaranya :
1.Menafsirkan al-Qur’an dengan al-Qur’an. Beliau menafsirkan ayat dengan ayat yang telah di tafsirkan atau berhubungan.
2.Menafsirkan al-Qur’an dengan mengutip Hadits, yaitu ketika beliau menafsirkan ayat 62 surah an-Naml tentang di terimanya Doa oleh orang yang terkena musibah atau keadaan kesusahan, dan beliau mengutip hadits yang di katakan oleh Abu Bakar As-Siddiq, sebagai berikut: 
 
Napuadai nabitta Muhammad SAW ri doanna tau manrasa-ransae. E...Puang upurennui pammasemu, naaja lalo tapesonanga lao rialeku (taita-itai bawangnga na mauni) sikkeddereng matamuna nennia tapedecengngiangnga gau-gaukku/ urusan-urusakku imanenna. Degaga puang sangadinna ikomi.
Artinya: Rasulullah SAW Bersabda untuk Doa orang yang susah: Ya Allah, aku meminta Rahmat dari Mu. Janganlah engkau memberiku kesusahan walau sekejap mata, perbaikilah akhlak atau perbuatanku, segala urusanku. Tiada Tuhan Selain Engkau Ya Allah.
3.Menafsirkan al-Qur’an dengan mengutip sebuah tafsir, sebagaimana di katakan, yang beliau kutip dalam Tafsir Al-Maragi, Juz 7 hal. 9, sebagai berikut :
 
Takkappoi seuwwa urane lao ri Ibn Dinar na makkeda “Uwellauki sibawa karana Allah majeppu taellau doangekka, iyyanae tau manrasa-rasaka (natujuka sussa nennia sukkara)”. Makkedai Ibn Dinar “narekko makkuitu ikona mellau doang ri puang Allah Taala, apa mejeppu Puang Allah Taala na tarimai parellau doangna tau masukkarae narekko mellau doangngi ritu”. 
 
Artinya: Telah datang seorang lelaki ke Malik Ibn Dinar dan berkata: Aku meminta kepadaMu karena Allah agar engkau mendoakan diriku karena Aku termasuk orang susah (terkena musibah). Maka Malik Ibn Dinar berkata: kalau begitu, dirimulah yang berdoa kepada Allah. Karena Allah senantiasa menerima Doa bagi orang yang kesusahan apabila Dia Berdoa kepadaNya.
 
Selain contoh pendapat-pendapat di atas, masih banyak juga yang di temukan dalam Tafsir Al-Munir ini pada surah-surah yang lain. Maka dari itu, tidak di nafikan juga adanya unsur bi al-ra’y di dalamnya. Dalam tafsir AGH Daud Ismail ini, tafsir bi al-matsur dengan tafsir bi al-ray kadang-kadang di perhadapkan secara komprotatif. Jika bi al-matsur lebih mengandalkan nukilan riwayat, sebaliknya bi al-ra’y cenderung mengandalkan akal dan logika.
 
AGH Daud Ismail dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur‘an, terkadang mengutip penafsiran dari mufasir ternama sebelumnya, sehingga dapat dikatakan juga menggunakan metodologi muqarân meskipun hanya sesekali. Dalam penjelasan sebuah persoalan yang terdapat dalam sebuah ayat atau kelompok ayat, terkadang ia merujuk kepada ayat al-Qur‘an yang lain, sehingga dapat dikatakan juga bahwa ia memanfaatkan prinsip dasar metodologi mawdhû’i. Dalam kaitan ini, setidaknya beliau telah menggunakan apa yang dikenal dalam sistem penulisan modern dengan referensi silang. Hal ini tentu saja sangat bermanfaat karena memudahkan bagi para pembaca dalam memahami berbagai ayat. 
 
Dilihat dari segi metode penafsiran dan karakteristiknya, tafsir Daud Ismail ini mempergunakan metode tahlîli moderat. Artinya, tidak secara ketat mempergunakan tahlîli, karena kita tidak terlihat penjelasan setiap kosa kata yang ada sebagaimana yang ada pada kebanyakan tafsir tahlîli, tapi hanya menampilkan kosa kata yang dianggap butuh penjelasan. Tafsir Daud Ismail ini juga tidak mengkaji struktur kebahasaan dan kajian balaghahnya sebagaimana yang terjadi pada tafsir-tafsir yang beraliran al-adab alijtimâ’i. Dalam penggunaan gaya bahasa, Tafsîr al-Munîr menggunakan bahasa sederhana yang mudah dipahami oleh kebanyakan orang Bugis, mengingat tafsir ini diperuntukkan bagi seluruh masyarakat Bugis dari semua kalangan. Begitu pula masyarakat di harapkan untuk memahami bacaan serta makna dan penafsiran dari tafsir ini.
 
Meskipun mempergunakan metode tafsir tahlîli, dalam tafsir al-Munîr tampaknya AGH Daud Ismail tidak banyak memberikan penekanan pada penjelasan makna kosa kata. Daud lebih banyak memberikan penekanan penjelasan dan pemahaman ayat-ayat secara menyeluruh. Setelah mengemukakan terjemahan ayat, Daud biasanya menyampaikan uraian makna dan petunjuk yang terkandung dalam ayat yang ditafsirkan, tanpa banyak menguraikan makna kosa kata. Penjelasan makna kosa kata walau pun ada tapi jarang dijumpai. 
 
Corak Tafsir Al-Munir
 
Corak penafsiran yang menjadi kecendrungan dalam suatu karya tafsir dapat dikelompokkan ke dalam corak fikih, bahasa/Lughawi, falsafi, Ilmi. Corak ini ditentukan oleh hal-hal yang lebih mendominasi ketika menafsirkan al-Qur‘an. Menurut Hamdani Anwar, Corak tafsir yang berorientasi pada kemasyarakatan akan cenderung mengarah pada masalah-masalah yang berlaku atau terjadi di masyarakat. Penjelasan-penjelasan yang diberikan dalam banyak hal selalu dikaitkan dengan persoalan yang sedang dialami umat, dan uraiannya diupayakan untuk memberikan solusi atau jalan keluar dari masalah-masalah tersebut. Dengan demikian, diharapkan bahwa tafsir yang telah ditulisnya mampu memberikan jawaban terhadap segala sesuatu yang menjadi persoalan umat, dan ketika itu dapat dikatakan bahwa al-Qur‘an memang sangat tepat untuk dijadikan sebagai pedoman dan petunjuk.  
 
Kalau dilihat dari corak penafsirannya, tafsir al-Munir ini termasuk bercorak fikih. Hal ini bisa dilihat dari berbagai tafsirannya ketika dia menafsirkan ayat-ayat hukum. Daud Ismail ketika menemui ayat itu sebagai ayat hukum terutama masalah fikih, maka Daud secara panjang lebar mengupas dan menerangkan ayat tersebut dengan pendekatan fikih. Seperti ketika membahas masalah membaca berulang Al-Qur’an serta shalat, dia menjelaskan panjang lebar tentang pentingnya memelihara shalat lima waktu secara khusyu.  Di samping itu, dia juga menyertakan ayat-ayat dan hadits- hadits yang menyangkut tentang kewajiban dan keutamaan shalat, beliau juga banyak mengutip ayat-ayat dan hadis-hadis tentang shalat meski tidak menulis perawinya. Begitu juga ketika menemui ayat tentang puasa, haji, zakat, waris, wasiat, yang secara gamblang beliau menjelaskannya. Berbeda dengan ayat-ayat lain, AGH Daud Ismail hanya mengulasnya dengan sepintas tanpa banyak komentar.
 
Kesimpulan
Sebagai kesimpulan dalam penelusuran kitab Al-Munir, terjemahan dan tafsiran al-Qur’an berbahasa bugis (Ugi) maka dapat di simpulkan:
Bahwa format yang di gunakan oleh AGH Daud Ismail ini berupa pola Mushhafi. Karena beliau menyusun tiap satu jilid itu menjadi 3 juz sehingga mencetak 10 jilid sebanyak 30 juz dalam Al-Qur’an. Ini dapat di lihat sistematika dalam menafsirkan al-Qur’an: 1. Menulis ayat-ayat Al-Qur’an berdampingan dengan terjemahan, ayat Al-Qur’an di tulis di kolom sebelah kanan dan terjemahan bahasa bugisnya di kolom kiri. 2. Menyebutkan urutan surah dan ayat pada awal pembahasannya. Setiap penafsiran satu ayat, dua ayat, atau beberapa ayat Al-Qur’an di susun sedemikian rupa sehingga memberikan pengertian yang menyatu, atau ayat-ayat tersebut di anggap satu kelompok. 3. Memberikan pengertian ayat-ayat secara global, sehingga sebelum memasuki penafsiran yang menjadi topik utama, agar pembaca dapat terlebih dahulu mengetahui makna ayat-ayat tersebut secara umum. 4. Gaya bahasanya adalah bahasa bugis, AGH Daud Ismail menyadari bahwa kitab-kitab tafsir terdahulu di susun berbahasa Arab serta Pegon. Maka dari itu AGH Daud Ismail juga menghadirkan tafsir bahasa bugis agar yang tidak mengerti bahasa arab atau pegon dapat mengerti isi dengan bahasa bugis ini. 5. Setiap terakhir Juz, AGH memberikan penjelasan serta kata-kata hikmah untuk sering di baca tafsir ini. Serta di akhir juz juga di buatkan daftar isi agar lebih mudah mencari ayat dan penjelasannya.
 
 
Daftar Pustaka
 
AGH Daud Ismail, Tafsir al-Munir, Mabbicara Ugi, Juz XIX-XXI, Jilid VII (Makassar: PT. CV Bintang Lamumpatue, 2001)
Hamdani Anwar, dalam Jurnal ―Mimbar Agama”, Vol. XIX, No.2 ,2002
M. Quraish Shihab, Membumikan al-Quran, Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, (Bandung: Penerbit Mizan, 1996) cet. XII
M. Quraish Shihab, Mukjizat Al-Quran, (Bandung: Mizan, 1420/1999), cet. ke-6
Muhammad Ruslan dan Waspada Santing, Ulama Sulawesi Selatan;Biografi Pendidikan & Dakwah (Makassar: Komisi Informasi dan Komisi MUI SulSel, 2007)
 
Penulis ; M Mufid Syakhlani ,  Santri PP Ciganjur /Pascasarjana STAINU Jakarta 
 


Djendral Sudirman meninggal 29 Djanuari 1950

Segera Beredar, Buku 7 Jalan Menuju Keamanan Energi

Menyoal Status Agama-Agama Pra-Islam