Foto : Pasangan calon gubernur dan wakil gubernur di Pilkada DKI 2017. (ist)

Membedah Strategi Politik Pasangan Calon Gubernur DKI Jakarta

Ind | Minggu , 13 November 2016 - 00:31 WIB

Pilkada Ibu Kota Negara Republik Indonesia (NKRI) dalam sepuluh tahun terakhir menjadi piala bagi partai politik di Indonesia yang sangat bergengsi. Mendudukkan kader jagoannya sebagai gubernur DKI dapat memberikan sumber potensial bagi motor partai politik dalam memuluskan strategi politik terutama dalam mengamankan kekuasaan dan memperluas pengaruh yang kuat dalam perpolitikan nasional.

Berbagai strategi dan manuver politik dilakukan oleh 3 kekuatan politik utama Indonesia saat ini yaitu, poros Jokowi (PDIP, Golkar, Nasdem, Hanura, PKB), Poros Prabowo (Gerindra, PKS, PPP) dan Poros SBY (Demokrat dan PAN).

Mengamati strategi dan taktik yang dikerahkan oleh 3 poros ini, beberapa strategi yang diterapkan masih mengadopsi strategi lama berdasarkan pola lama yang membawa keberhasilan memenangkan pasangan calon (paslon) pada pilkada terdahulu. Namun beberapa strategi tampak diadopsi dan dijalankan guna mengantisipasi kelemahan paslonnya dan menurunkan keunggulan dari paslon partai kompetitor pilkada DKI 2017.

Strategi petahana, yakni paslon Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat (Ahok-Djarot) yang didukung oleh poros Jokowi tampak tidak terlalu berbeda dengan sebelumnya. Hal ini kemungkinan besar disebabkan popularitas ahok yang cukup tinggi dibandingkan paslon kompetitor menyebabkan tidak banyak strategi politik yang tampak dipermukaan seperti pada masa ia dipasangkan dengan Jokowi merebut kursi Gubernur dari petahana sebelumnya.

Pembentukan teman ahok sebagai jaringan pendukung massa penggerak tampaknya menjadi satu-satunya strategi yang dilakukan Ahok sebelum menerima dicalonkan melalui parpol poros Jokowi. Tentu tim Teman Ahok akan bubar secara teratur karena sulit untuk membayangkan tim sukarelawan bergabung dengan tim pemenangan partai politik yang tentu penuh dengan kepentingan praktis.

Dibandingkan dengan paslon kompetitor, tampaknya paslon Ahok-Djarot menghadapi masalah yang paling rumit dan sulit setelah kasus `penistaan Islam` yang apabila benar di pengadilan terbukti bersalah tentu cukup sekian perjalanan Ahok dan poros Jokowi untuk menang di Pilkada DKI 2017.

Namun Apabila ternyata `simsalabim` Ahok tetap bisa mencalonkan diri, maka tantangan yang terbesar adalah mengembalikan kepercayaan publik terutama pemilik suara umat Muslim di Jakarta. Dilema yang sungguh besar dihadapi oleh poros Jokowi terutama pasca demo 4 November silam.

Melihat strategi pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno (Anies-Sandi) tampak lebih santai dan tidak terlalu mencolok. Jika mengamati dari media informasi cetak dan televisi. Safari keliling ke pedagang baik di pasar maupun di pinggir jalan dengan berolahraga atau ke pasar malam dilakukan guna memperkenalkan diri guna meningkatkan popularitas.

Jika ditilik lebih dalam memang strategi poros Prabowo tampak tidak menginginkan melakukan strategi politik yang menggunakan dan menghabiskan dana yang besar yang kemungkinan besar berkaca kepada pengalaman pilpres silam. Perdebatan kecerdasan dan ideologi politik dalam program kebijakan menjadi ujung tombak guna memperoleh dukungan masyarakat DKI, menjadi ekspektasi strategi paslon poros Prabowo.

Tidak mengherankan sosok yang dicalonkan poros Prabowo adalah Anies yang berasal dari akademisi intelektual dan Sandiaga Uno, pengusaha muda yang sukses. Pun, Gerindra dan PKS merupakan parpol yang berada di luar pemerintahan tentu tidak memiliki sumber dana yang besar untuk membentuk tim pemenangan seperti kompetitor utama Ahok-Djarot.

Hal ini disebabkan pengamatan poros Prabowo, Jakarta mayoritas diisi oleh penduduk dengan latar belakang kelompok intelektual, pekerja yang berpendidikan dan kelompok pengusaha kecil dan menengah.

Di lain pihak, paslon Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni (Agus-Sylvi), sangat bergantung kepada strategi yang dilakukan oleh sosok SBY, ayah dari Agus. Sosok Sylvi disandingkan tentu dengan alasan karena Agus tidak terlatih secara birokrat tetapi prajurit yang akan membantunya dalam menggerakkan mesin birokrasi jika terpilih.

Paslon Agus-Sylvi terlihat tidak jauh berbeda, namun sasarannya sedikit berbeda, yaitu kelompok birokrat, purnawirawan tni dan jaringan yang dibangun semasa SBY menjabat sebagai presiden. Poros SBY tampak lebih `all-out` dibandingkan poros Prabowo disebabkan kemenangan pada Pilkada DKI akan memberikan suntikan `kekuatan` bagi motor Partai Demokrat yang selama ini sangat bergantung kepada pengaruh dan jabatan strategis dalam pemerintahan selama 10 tahun terakhir.

Tidak sedikit kader Demokrat yang keluar ataupun terpaksa keluar karena terlibat masalah hukum. Oleh sebab itu kemengangan pilkada DKI akan menempatkan Demokrat dan SBY menjadi kontender serius yang akan mempengaruhi Pilpres 2019.

Terlepas dari strategi dan taktik yang dijalankan oleh paslon dan ketiga poros, tampaknya keunggulan sedang diperoleh oleh paslon kompetitor dengan kasus `penistaan islam` yang menyandera paslon Ahok-Djarot.

Animo negatif masyarakat muslim Indonesia terhadap Ahok menjadi bencana yang tak diharapkan poros Jokowi, namun secara kompetisi justru memberikan posisi start yang berbeda dari bulan sebelum kasus tuntutan penjarakan Ahok merebak.

Paslon Ahok-Djarot berada pada posisi `from hero to zero`, sedangkan paslon Agus-Sylvi berada posisi yang relatif menguntungkan bila dibandingkan Ahok-Djarot, namun sedikit lebih di bawah paslon Anies-Sandi, mengingat Anies lebih dikenal kiprahnya di dalam kehidupan akademisi intelektual terutama setelah menjabat sebagai Menteri Pendidikan.

Paslon Agus-Sylvi harus memanfaatkan momentum anti-Ahok dan mempersiapkan secara maksimal paslonnya terutama menghadapi petahana Ahok yang mumpuni dalam perdebatan program kebijakan pemerintahan dan Anies yang berasal dari akademisi yang akrab dengan permasalahan sosial dan langkah strategis bagi pemerintahan.

Sedangkan pasangan Anies-Sandi keunggulan momentum dan kondisi yang tidak menguntungkan kompetitor utama yaitu Ahok, harus dimaksimalkan melalui kader PKS yang terkenal loyal untuk memperkuat basis dukungan dikalangan intelektual, pekerja dan para pengusaha kecil dan menengah.

Kemenangan dalam pertarungan politik tidak selalu disebabkan oleh kekuatan yang dimiliki, tetapi dapat terjadi karena kompetitor yang sedang sakit dan momentum.    

Penulis: Muhammad Akbar Hairi, Pemerhati Sosial Politik     
 


Menyoal Pembangunan dan Keadilan Agraria

Bahaya Politik Intoleransi

Teologi Politik Jakarta