Foto : Istimewa

DPP IMM: Relokasi Warga Cinangka Yang Terpapar Timbal

Mmd | Kamis , 17 Agustus 2017 - 12:30 WIB

Publicapos.com- Kegiatan peleburan aki bekas yang dilakukan secara tradisional sejak tahun 1978 menyisakan masalah di Desa Cinangka, Kecamatan Ciampea, Bogor, Jawa Barat. Sisa dari peleburan aki bekas tersebut dibuang di berbagai tempat, sebagian digunakan sebagai bahan timbunan dan bahan turap. Tanpa disadari hal ini menyebabkan kontaminasi terhadap tanah-tanah di wilayah Desa Cinangka.

 
Pencemaran logam berat dapat menyebabkan anak-anak desa terserang penyakit, seperti keterbelakangan mental, mulai dari kaki lemah tidak bisa berdiri, bahkan sampai ada yang meninggal dunia.
 
Hal ini disoroti Ketua Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM) Ahmad Fauzi Syahputra. Ia mengatakan bahwa kasus ini sebenarnya kasus lama, namun para korban tidak pernah mendapatkan perhatian pemerintah.
 
"Warga cinangka terancam kehilangan hak hidupnya akibat pencemaran lingkungan hebat yang terjadi di tempat mereka tinggal. mirisnya, itu terjadi tak jauh dari pusat kekuasaan negeri ini, hanya berjarak 70km dari ibukota," paparnya.
 
Sebelumnya pada Desember 2016, kata Fauzi, KLHK sudah melakukan pemulihan tanah agar limbah B3 tidak meluas hingga ke wilayah desa lain. Antara lain dengan cara metode enkapsulasi dan gredding and fill. Tetapi masih ada sekitar 126 ribu ton tanah yang harus dilakukan pemulihan mengingat cakupan pencemaran B3 di wilayah Desa Cinangka sudah meluas. Karena KLHK baru mengeruk sebanyak 24 ribu ton tanah.
 
Fauzi berharap ada relokasi warga cinangka agar terhindar dari penyakit. “Kami berpandangan bahwa solusi yang tepat adalah pemindahan warga ke perkampungan baru. Mengingat banyaknya wilayah yang telah terpapar timbal hingga masuk ke tanah dan air yang mereka konsumsi sehari-hari.
 
Ia menjelaskan, potensi gangguan kesehatan yang diakibatkan pencemaran timbal dari kegiatan peleburan aki bekas antara lain gangguan neurologi, gangguan fungsi ginjal, gangguan fungsi reproduksi, cacat fisik, keterbelakangan mental, tremor, anemia, penurunan tingkat kecerdasan (IQ) dll.
 
Karenanya, menurut Fauzi, jika warga dibiarkan disana, maka sama saja pemerintah telah membiarkan warganya membunuh diri secara perlahan."Jika warga dibiarkan terus disana, maka bisa saja warga cinangka akan kehilangan 1 generasi karena telah terpapar racun pembakaran timbal," jelasnya.
 
Fauzi berharap agar kasus ini dapat diselesaikan. Sekalipun melibatkan banyak pihak, antara lain kerjasama yang baik antara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dari segi perbaikan lingkungan yang terpapar timbal dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk melakukan relokasi warga."Kami minta KLHK dan BNPB untuk turun merehabilitasi lingkungan dan korban, agar mereka benar-benar pulih dari paparan timbal yang telah mereka rasakan selama belasan tahun." tutupnya. (mmd)


Antara Ahok, Manusia perahu dan Bukit Duri